Teknologi AI untuk membaca aktivitas otak

Neuroscientists dari University of California, San Francisco telah melakukan penelitian mengenai sistem berbasis Artificial Intelligence atau yang sering kita sebut dengan kecerdasan buatan. Sistem yang sedang diteliti ini dapat memecahkan kode gelombang otak menjadi teks tertulis dengan kecepatan yang belum pernah ada sebelumnya.

Para peneliti mempublikasikan hasil penelitiannya di jurnal ilmiah Nature Neuroscience pada akhir Maret lalu.

Teknologi tersebut merupakan suatu langkah dari kemajuan teknologi yang sekarang ini kita rasakan yang hanya terbatas pada teknologi untuk mengenali pebicaraan verbal saja. Jika riset ini sukses, nantinya teknologi ini dapat digunakan untuk membantu penyandang disabilitas (tunawicara).

artificial intelligence
Artificial Intelligence Gambar oleh Gerd Altmann dari Pixabay

Sedikit menilik ke belakang yaitu pada tahun 2008, fisikawan teoritis Stephen Hawking menggunakan speech synthesizer program pada komputer Apple II untuk “berbicara”. Ilmuwan jebolan Universitas Cambridge tersebut harus menggunakan kontrol tangan untuk mempekerjakan sistem otaknya akibat penyakit Lou Gehrig yang dideritanya. Ketika ia meng-upgrade perangkat baru yang disebut “cheek switch,”, aktivitas yang membantunya berbicara, menulis email, menjelajahi Web, dapat dideteksi ketika Hawking menegangkan otot pipinya.

Sekarang, neuroscientists (para ilmuwan saraf) di University of California, San Francisco telah menemukan teknologi yang jauh lebih maju yaitu program kecerdasan buatan (AI) yang dapat mengubah pikiran menjadi teks. Kedepannya, teknologi ini memiliki potensi untuk membantu jutaan orang penyandang disabilitas yang memiliki kesulitan untuk berbicara (berkomunikasi).

“Kami mengeksploitasi konseptual yang similar dari tugas memecahkan kode pidato dari aktivitas saraf ke tugas terjemahan mesin, yaitu terjemahan algoritmik teks dari satu bahasa ke bahasa lain,” tulis para ilmuwan dalam sebuah makalah baru yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah Nature Neuroscience.

Para ilmuwan mengambil pendekatan AI yang mirip dengan menerjemahkan teks dalam berbagai bahasa. Teori yang mendasari adalah kesamaan dalam kedua kasus yang bertujuan untuk mengkonversi satu urutan dari suatu panjang arbitrary ke lainnya namun dengan input yang berbeda, sinyal saraf di otak melawan teks.

Untuk menguji hipotesis mereka, para peneliti menggunakan uji coba manusia. Para ilmuwan menanamkan elektroda ke otak empat partisipan untuk memantau ucapan mereka. Setiap orang kemudian membaca kalimat dengan keras satu dari dua dataset: satu set deskripsi gambar, terdiri dari 30 kalimat dan 125 kata unik, yang berisi 460 kalimat dan sekitar 1.800 kata unik.

Setiap partisipan membaca 50 kalimat dengan keras beberapa kali, termasuk kalimat seperti “Tina Turner is a pop singer” dan “there is chaos in the kitchen“. Ketika masing-masing orang berbicara, para peneliti memonitor aktivitas otak mereka. Kemudian, mereka memasukkan data ke dalam machine learning algoritma yang bisa mengubah gelombang otak menjadi serangkaian angka yang meng-encode kalimat. Pada bagian lain dari sistem, angka-angka diubah kembali menjadi urutan kata-kata.

NATURE NEUROSCIENCE
hasil dari penelitian ai kecerdasan buatan ai membaca aktivitas otak ke dalam bentuk teks.
firmandwi.com
news.firmandwi.com
Nature Neuroscience

Pada awalnya, sistem muncul dengan beberapa frasa yang tidak masuk akal, seperti “the spinach was a famous singer”, baris dengan tata bahasa yang tidak tepat, seperti “several adults the kids was eaten by”, dan beberapa kalimat yang terdengar filosofis, seperti “the oasis was a mirage”. Seiring dengan berjalannya waktu, sistem terus mengalami penyempurnaan dengan membandingkan kalimat awal yang dibacakan dengan keras oleh partisipan untuk menjadi bahan perbandingan para peneliti.

Dalam satu kasus, sistem memperoleh 97 persen kalimat yang benar mewakili kesalahan yang lebih sedikit dari rata-rata transcriber manusia. Namun, algoritma ini hanya memproses sebagian kecil dari kalimat dan kata-kata dibandingkan dengan yang diinginkan oleh pengguna.

Teknologi ini masih dalam tahap pengembangan karena sistem ini masih terbatas hanya bisa bekerja pada ucapan verbal. Artinya mereka yang menderita kelainan berbicara yang disebabkan kelumpuhan otot belum mendapatkan menfaatnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *